PROLOGUE
Naya POV
"Ayah?" aku menyikut lengan ayahku. Aku sedikit bergidik ngeri melihat pria di hadap anku yang mulai hari ini dipekerjakan oleh ayahku sebagai bodyguard. Bagaimana tidak, mulai dari tangan hingga leher, penuh dengan tato. Di telinganya ada bekas tindik.
"Nemu dimana?" bisikku lagi.
Ayah mencubit lenganku. "memangnya anak kucing nemu?"
"Ya habis ayah masa nyerahin aku ke orang kayak gitu," balasku sambil sesekali tersenyum ke arah pria itu yang menatap lurus ke arahku.
Aku membuka buka catatan kehidupannya. Aku melotot begitu melihat fakta bahwa ia baru saja keluar
dari penjara beberapa hari yang lalu! Oh syit men!
"Ayah bercanda?!" kali ini aku mencubit lengan ayah.
"ehm. Sayang, dia memang baru keluar dari penjara. Tetapi dia bukan tersangka pembunuh atau apapun. Dia dipenjara karena terlibat kasus pengeroyokan salah satu pegawai Ayah empat tahun lalu," jawab Ayah pelan.
"Tapi ayah-"
"Ayah yang mengeluarkan dia dari penjara. Dengan syarat, dia mau menjadi bodyguardmu. Kamu kan sekarang penyanyi terkenal. Kalau ada orang j ahat gimana?"
"tapi kan masih ada orang normal lain," aku tetap tidak mengerti. Aku kembali membaca daftar riwayat hidupnya. Fakta bahwa dia adalah mantan penghuni hotel prodeo sudah membuatku agak takut. Tetapi setelah itu, aku mengerti kenapa Ayah membebaskannya dan mau memberinya pekerjaan ini. Kedua orang tua pria ini adalah teman lama ayah dan sudah meninggal dua bulan lalu karena kebakaran rumah. Dengan kata lain. dia yatim piatu. Aku menutup lembar riwayat hidupnya.
" Sudah mengerti?" tanya Ayah. Aku mengangguk. Aku berdiri lalu mengulurkan tanganku. Pria itu terlihat ragu sebentar lalu membalas uluran tanganku.
" Mulai besok, kamu bekerja padaku," kataku.
Aku mengulet ketika jam wekerku berbunyi nyaring. Aku mengucek mataku sambil menggaruk rambutku yang berantakan dan kusut. Selalu seperti itu setiap aku bangun tidur. Oya, namaku Naya Arumi. Salah satu penyanyi pendatang baru yang namanya sedang melejit setelah menjuarai salah satu ajang pencarian bakat. Selain sebagai penyanyi yang mulai sibuk merilis single satu per satu, menjadi bintang acara di banyak talkshow dan off air, Aku juga seorang mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk menyelesaikan skripsiku.
Aku membuka pintu kamarku. Terlihat Bunda sedang memasak dan Ayah membaca koran di ruang tamu. Sementara sosok pria bertato itu duduk tenang di teras rumah.
Namanya Alan. Seperti sudah diketahui, dia adalah mantan napi kasus pengeroyokan. Jago bela diri, bertubuh yang bisa dibilang ala ala cowok L men gitu yang konon memang suka olahraga selama di penjara. Tato yang ada di sekujur tubuhnya, dibuat ketika ia sedang mengalami masa pencarian jati diri yang salah, sampai akhirnya menjerumuskannya ke kehidupan yang tidak benar. Kedua orangtuanya tidak memperdulikannya lagi bahkan sampai ia masuk penjara. Itulah yang kudengar dari ayah. Mungkin dia sudah bertaubat sekarang.
" Eh kamu udah bangun..." sapa Bunda. Oya, Bunda ini manajerku, semua jadwal kegiatanku diatur oleh Bunda.
" Bunda, aku pagi mau bimbingan. Hari ini agendanya apa?" tanyaku sambil menggigit sepotong roti.
" Naya! Itu punya mas!" serobot Mas Bowo, kakakku. Dia adalah seorang dokter. Status, jomblo.
" Cari pacar dulu sana baru makan rotinya!"ledekku. Mas Bowo tidak terima lalu mengejarku.
Bunda yang berkali kali tersenggol kami saat sedang menyiapkan sarapan menjadi gemas. Bunda menarik kedua tangan kami.
"Bowo cepat selesaikan sarapanmu dan Naya cepat mandi!" teriakan Bunda mengakhiri keramaian.
Aku menjulurkan lidahku meledek Mas Bowo lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Seusai mandi, aku mengambil bekalku. Kepadatan aktivitasku semenjak debut membuatku menjadi terbiasa makan di dalam mobil.
" Ayah, kunci mobilku mana?" teriakku sambil menyisir tempat kunci. Aneh, aku tidak menemukannya dimanapun. Bahkan ketika kupikir jatuh di bawah meja pun, ternyata tidak ada.
" Kuncimu di Alan. Mulai sekarang dia juga bakalan jadi supirmu," wat? Waaaattttt? Berarti dia akan mengikutiku terus?! Tidak hanya syuting saja?!
" Whattt????"
" Kenapa memangnya?" heran Ayah. Aku hanya menggeleng. Wah gawat, dia bakalan ikut aku ke kampus nih. Bisa berabe kalau temen temen liat Alan begini, mana tatonya banyak pula.
Dengan langkah gontai aku keluar menuju teras rumah dimana Alan duduk diam sendirian dengan tenang. Matanya langsung melirik ke samping ketika sudut matanya menangkap sosokku melewati pintu. Ia langsung berdiri. Gile ini cowok apa genter, tinggi bener! Nggak usah pake tato aja aku sudah ngeri kalau perawakannya begini.
Alan lalu membukakan pintu untukku. Aku mengerutkan dahinya bingung.
" Masuk," suara ngebassnya terdengar. Dengan buru buru aku segera masuk. Mobil pun meluncur dengan perlahan keluar dari gerbang menuju kampusku.
" Ka kamu punya SIM, 'kan?" tanyaku iseng.
Ia mengangguk." Bulan depan habis waktu,"
Suasana kembali krik krik. Ingin rasanya aku membuka pintu lalu turun, berteriak, lalu masuk lagi. Ini benar benar suasana yang sangat tidak nyaman! Aku curi curi pandang. Sebenernya, mukanya oke punya, sih. Ditambah kulit sawo matang khas bangsa Indonesia membuatnya terlihat seperti cowok oke banget. Tapi sayang, tatonya itu tidak bisa tertutupi. Mulai dari tangan sampai leher, serta bekas tindik di telinganya, membuatnya gagal oke. Setidaknya menurutku begitu.
Akhirnya kami sampai di pintu gerbang kampus. Aku menghela nafas lega. Aku tidak tahu bakal sebosan apa jika lebih lama dari ini. Ia mengarahkan mobilku menuju parkiran fakultas. Seperti biasa, beberapa fans sudah menunggu di parkiran. Fans ini ada yang merupakan orang luar kampus yang ngebelain diri buat pagi pagi stay disini, ada juga dari fakultas atau jurusan sebelah, ada juga yang dari teman satu jurusanku sendiri.
Sudah bisa ditebak, ketika Alan keluar dari mobil, wajah para fans ku berubah pucat karena takut. Oya selain tatonya yang banyak, wajah garangnya juga sangat mendukung. Alan membukakan pintu untukku.
" Mbak Naya, anu itu " celetuk salah satu fans memecah keheningan.
" Ah iya, kalian semua, kenalin, namanya Alan. Mulai sekarang dia bekerja padaku. Kalian tenang saja, tidak perlu takut," ucapku mencoba mencairkan suasana. Dan berhasil! Mereka lupa begitu saja tentang Alan dan langsung meminta tanda tangan maupun foto selfie bersama.
" Mas, aku masuk dulu, mau bimbingan," pamitku.
Alan mengangguk. Aku buru buru masuk ke halaman jurusan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Aku benar benar merasa tegang jika harus berhadapan dengannya. Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu jauh darinya.
" NAYA!" langkahku terhenti ketika kudengar suara salah satu sahabatku, Sachya. Gadis berkerudung dan berkacamata ini adalah sahabatku sejak SMP. Lalu dibelakangnya, yang sedang melambaikan tangannya
adalah Catherine, sahabatku sejak SMA, dan yang terakhir, yang sedang sibuk menendang kaleng adalah, Okta. Kalau Okta ini satu satunya sahabatku yang tomboy abis. Okta sendiri menjadi sahabatku sejak kuliah. Kami berempat bertemu di satu jurusan dan begitu saja berubah menjadi 4 sekawan.
Okta mengait leherku dengan tangannya membuatku merasa tercekik.
" OKTA! Lepas!" Catherine menarik tangan Okta. Okta melepasnya lalu tertawa terbahak-bahak bahkan ia seolah tidak peduli walaupun aku terb atuk-b atuk karena ulahnya.
" Naya," dan kali ini suara yang sangat tidak asing memanggilku. Dengan malas aku menolehkan wajahku ke sumber suara.
Bobby, dia mantanku. Putus setahun lalu karena Bobby selingkuh dengan salah satu cewek hits jurusan sebelah yang juga satu jurusan dengannya. Ya memang cewek hits itu sangat cantik. Rambutnya panjang terurai, bulu matanya lentik, tidak sepertiku dulu. Rambut selalu digelung, kadang juga tidak kusisir. Pakaian untuk ke kampus juga tidak pernah modis. Hanya kemeja saja. Tetapi, sejak aku memulai debutku sebagai penyanyi solo pendatang baru dan dituntut untuk selalu tampil menarik, Bobby mulai mendekatiku lagi.
" Apa kabar?" sapanya. Aku menaikkan satu alisku.
" Wah, mau apa kamu?" Okta langsung pasang badan.
" Cerewet loe, ah! Ini gue lagi ngomong sama pacar gue!" cerocos Bobby. Yap, memang Bobby ni mulutnya kayak cewek. Doyan nyerocos. Cewek aja kalah.
" Wait, pacar?" sambung Catherine. " Mantan kaleeee.."
Bobby mendengus kesal. " Nay, kenapa sih kamu nolak aku terus gini? Kamu ngehindarin aku tiap hari. Kamu masih sayang, 'kan, sama aku? Ayo kita balikan." Pintanya.
Beuh, cerita lama. Bobby ini memang anak band yang punya mimpi mau bawa bandnya biar dikenal seluruh Indonesia. Mimpi boleh sih, tapi wujudinnya pake usaha sendiri dong. Beda sama Bobby, aku sudah mengerti tipikal Bobby, dia mau manfaatin aku aja biar bandnya ikut terkenal. Settingan...
" Apaan sih, Bob. Udah deh.." sambung Sachya.
" Nggak," jawabku tegas. " Yah, Nay-"
" Kamu inget ga siapa yang pernah ngetawain aku pas kubilang mau ikut ajang pencarian bakat itu? Kamu sama cewekmu itu yang hits, Bob. Kata kalian, penampilanku ga pantes buat ikut ajang pencarian bakat. So, lihat sendiri kan? Aku berusaha mati-matian buat menang dan buktiin diri ke kalian berdua," aku melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal!
" I..iya, Nay, maaf. Tapi aku udah mutusin cewekku demi kamu, lho," ungkapnya membela diri.
" Itu sih bodo amat," jawabku. Lalu mataku terbelalak melihat siapa yang datang menghampiri dari arah belakang Bobby. Alan datang!
" Ada apa ini?" suara berat Alan mengagetkan Bobby. Bobby terlihat sangat kecil jika disandingkan dengan Alan yang berbadan tinggi besar.
" A -ah tidak apa apa!" kataku cepat.
Okta, Sachya dan Cahterine saling berpandangan. Mereka belum tahu siapa Alan.
" Dia mengganggumu?" tanyanya.
" Ah, ti tidak, kok. Kamu kembali saja ke mobil! Aku mau masuk," aku buruburu menarik ketiga sahabatku meninggalkan Bobby yang mematung dengan terus menatap Alan.
Naya POV
"Ayah?" aku menyikut lengan ayahku. Aku sedikit bergidik ngeri melihat pria di hadap anku yang mulai hari ini dipekerjakan oleh ayahku sebagai bodyguard. Bagaimana tidak, mulai dari tangan hingga leher, penuh dengan tato. Di telinganya ada bekas tindik.
"Nemu dimana?" bisikku lagi.
Ayah mencubit lenganku. "memangnya anak kucing nemu?"
"Ya habis ayah masa nyerahin aku ke orang kayak gitu," balasku sambil sesekali tersenyum ke arah pria itu yang menatap lurus ke arahku.
Aku membuka buka catatan kehidupannya. Aku melotot begitu melihat fakta bahwa ia baru saja keluar
dari penjara beberapa hari yang lalu! Oh syit men!
"Ayah bercanda?!" kali ini aku mencubit lengan ayah.
"ehm. Sayang, dia memang baru keluar dari penjara. Tetapi dia bukan tersangka pembunuh atau apapun. Dia dipenjara karena terlibat kasus pengeroyokan salah satu pegawai Ayah empat tahun lalu," jawab Ayah pelan.
"Tapi ayah-"
"Ayah yang mengeluarkan dia dari penjara. Dengan syarat, dia mau menjadi bodyguardmu. Kamu kan sekarang penyanyi terkenal. Kalau ada orang j ahat gimana?"
"tapi kan masih ada orang normal lain," aku tetap tidak mengerti. Aku kembali membaca daftar riwayat hidupnya. Fakta bahwa dia adalah mantan penghuni hotel prodeo sudah membuatku agak takut. Tetapi setelah itu, aku mengerti kenapa Ayah membebaskannya dan mau memberinya pekerjaan ini. Kedua orang tua pria ini adalah teman lama ayah dan sudah meninggal dua bulan lalu karena kebakaran rumah. Dengan kata lain. dia yatim piatu. Aku menutup lembar riwayat hidupnya.
" Sudah mengerti?" tanya Ayah. Aku mengangguk. Aku berdiri lalu mengulurkan tanganku. Pria itu terlihat ragu sebentar lalu membalas uluran tanganku.
" Mulai besok, kamu bekerja padaku," kataku.
Aku mengulet ketika jam wekerku berbunyi nyaring. Aku mengucek mataku sambil menggaruk rambutku yang berantakan dan kusut. Selalu seperti itu setiap aku bangun tidur. Oya, namaku Naya Arumi. Salah satu penyanyi pendatang baru yang namanya sedang melejit setelah menjuarai salah satu ajang pencarian bakat. Selain sebagai penyanyi yang mulai sibuk merilis single satu per satu, menjadi bintang acara di banyak talkshow dan off air, Aku juga seorang mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk menyelesaikan skripsiku.
Aku membuka pintu kamarku. Terlihat Bunda sedang memasak dan Ayah membaca koran di ruang tamu. Sementara sosok pria bertato itu duduk tenang di teras rumah.
Namanya Alan. Seperti sudah diketahui, dia adalah mantan napi kasus pengeroyokan. Jago bela diri, bertubuh yang bisa dibilang ala ala cowok L men gitu yang konon memang suka olahraga selama di penjara. Tato yang ada di sekujur tubuhnya, dibuat ketika ia sedang mengalami masa pencarian jati diri yang salah, sampai akhirnya menjerumuskannya ke kehidupan yang tidak benar. Kedua orangtuanya tidak memperdulikannya lagi bahkan sampai ia masuk penjara. Itulah yang kudengar dari ayah. Mungkin dia sudah bertaubat sekarang.
" Eh kamu udah bangun..." sapa Bunda. Oya, Bunda ini manajerku, semua jadwal kegiatanku diatur oleh Bunda.
" Bunda, aku pagi mau bimbingan. Hari ini agendanya apa?" tanyaku sambil menggigit sepotong roti.
" Naya! Itu punya mas!" serobot Mas Bowo, kakakku. Dia adalah seorang dokter. Status, jomblo.
" Cari pacar dulu sana baru makan rotinya!"ledekku. Mas Bowo tidak terima lalu mengejarku.
Bunda yang berkali kali tersenggol kami saat sedang menyiapkan sarapan menjadi gemas. Bunda menarik kedua tangan kami.
"Bowo cepat selesaikan sarapanmu dan Naya cepat mandi!" teriakan Bunda mengakhiri keramaian.
Aku menjulurkan lidahku meledek Mas Bowo lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi. Seusai mandi, aku mengambil bekalku. Kepadatan aktivitasku semenjak debut membuatku menjadi terbiasa makan di dalam mobil.
" Ayah, kunci mobilku mana?" teriakku sambil menyisir tempat kunci. Aneh, aku tidak menemukannya dimanapun. Bahkan ketika kupikir jatuh di bawah meja pun, ternyata tidak ada.
" Kuncimu di Alan. Mulai sekarang dia juga bakalan jadi supirmu," wat? Waaaattttt? Berarti dia akan mengikutiku terus?! Tidak hanya syuting saja?!
" Whattt????"
" Kenapa memangnya?" heran Ayah. Aku hanya menggeleng. Wah gawat, dia bakalan ikut aku ke kampus nih. Bisa berabe kalau temen temen liat Alan begini, mana tatonya banyak pula.
Dengan langkah gontai aku keluar menuju teras rumah dimana Alan duduk diam sendirian dengan tenang. Matanya langsung melirik ke samping ketika sudut matanya menangkap sosokku melewati pintu. Ia langsung berdiri. Gile ini cowok apa genter, tinggi bener! Nggak usah pake tato aja aku sudah ngeri kalau perawakannya begini.
Alan lalu membukakan pintu untukku. Aku mengerutkan dahinya bingung.
" Masuk," suara ngebassnya terdengar. Dengan buru buru aku segera masuk. Mobil pun meluncur dengan perlahan keluar dari gerbang menuju kampusku.
" Ka kamu punya SIM, 'kan?" tanyaku iseng.
Ia mengangguk." Bulan depan habis waktu,"
Suasana kembali krik krik. Ingin rasanya aku membuka pintu lalu turun, berteriak, lalu masuk lagi. Ini benar benar suasana yang sangat tidak nyaman! Aku curi curi pandang. Sebenernya, mukanya oke punya, sih. Ditambah kulit sawo matang khas bangsa Indonesia membuatnya terlihat seperti cowok oke banget. Tapi sayang, tatonya itu tidak bisa tertutupi. Mulai dari tangan sampai leher, serta bekas tindik di telinganya, membuatnya gagal oke. Setidaknya menurutku begitu.
Akhirnya kami sampai di pintu gerbang kampus. Aku menghela nafas lega. Aku tidak tahu bakal sebosan apa jika lebih lama dari ini. Ia mengarahkan mobilku menuju parkiran fakultas. Seperti biasa, beberapa fans sudah menunggu di parkiran. Fans ini ada yang merupakan orang luar kampus yang ngebelain diri buat pagi pagi stay disini, ada juga dari fakultas atau jurusan sebelah, ada juga yang dari teman satu jurusanku sendiri.
Sudah bisa ditebak, ketika Alan keluar dari mobil, wajah para fans ku berubah pucat karena takut. Oya selain tatonya yang banyak, wajah garangnya juga sangat mendukung. Alan membukakan pintu untukku.
" Mbak Naya, anu itu " celetuk salah satu fans memecah keheningan.
" Ah iya, kalian semua, kenalin, namanya Alan. Mulai sekarang dia bekerja padaku. Kalian tenang saja, tidak perlu takut," ucapku mencoba mencairkan suasana. Dan berhasil! Mereka lupa begitu saja tentang Alan dan langsung meminta tanda tangan maupun foto selfie bersama.
" Mas, aku masuk dulu, mau bimbingan," pamitku.
Alan mengangguk. Aku buru buru masuk ke halaman jurusan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Aku benar benar merasa tegang jika harus berhadapan dengannya. Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu jauh darinya.
" NAYA!" langkahku terhenti ketika kudengar suara salah satu sahabatku, Sachya. Gadis berkerudung dan berkacamata ini adalah sahabatku sejak SMP. Lalu dibelakangnya, yang sedang melambaikan tangannya
adalah Catherine, sahabatku sejak SMA, dan yang terakhir, yang sedang sibuk menendang kaleng adalah, Okta. Kalau Okta ini satu satunya sahabatku yang tomboy abis. Okta sendiri menjadi sahabatku sejak kuliah. Kami berempat bertemu di satu jurusan dan begitu saja berubah menjadi 4 sekawan.
Okta mengait leherku dengan tangannya membuatku merasa tercekik.
" OKTA! Lepas!" Catherine menarik tangan Okta. Okta melepasnya lalu tertawa terbahak-bahak bahkan ia seolah tidak peduli walaupun aku terb atuk-b atuk karena ulahnya.
" Naya," dan kali ini suara yang sangat tidak asing memanggilku. Dengan malas aku menolehkan wajahku ke sumber suara.
Bobby, dia mantanku. Putus setahun lalu karena Bobby selingkuh dengan salah satu cewek hits jurusan sebelah yang juga satu jurusan dengannya. Ya memang cewek hits itu sangat cantik. Rambutnya panjang terurai, bulu matanya lentik, tidak sepertiku dulu. Rambut selalu digelung, kadang juga tidak kusisir. Pakaian untuk ke kampus juga tidak pernah modis. Hanya kemeja saja. Tetapi, sejak aku memulai debutku sebagai penyanyi solo pendatang baru dan dituntut untuk selalu tampil menarik, Bobby mulai mendekatiku lagi.
" Apa kabar?" sapanya. Aku menaikkan satu alisku.
" Wah, mau apa kamu?" Okta langsung pasang badan.
" Cerewet loe, ah! Ini gue lagi ngomong sama pacar gue!" cerocos Bobby. Yap, memang Bobby ni mulutnya kayak cewek. Doyan nyerocos. Cewek aja kalah.
" Wait, pacar?" sambung Catherine. " Mantan kaleeee.."
Bobby mendengus kesal. " Nay, kenapa sih kamu nolak aku terus gini? Kamu ngehindarin aku tiap hari. Kamu masih sayang, 'kan, sama aku? Ayo kita balikan." Pintanya.
Beuh, cerita lama. Bobby ini memang anak band yang punya mimpi mau bawa bandnya biar dikenal seluruh Indonesia. Mimpi boleh sih, tapi wujudinnya pake usaha sendiri dong. Beda sama Bobby, aku sudah mengerti tipikal Bobby, dia mau manfaatin aku aja biar bandnya ikut terkenal. Settingan...
" Apaan sih, Bob. Udah deh.." sambung Sachya.
" Nggak," jawabku tegas. " Yah, Nay-"
" Kamu inget ga siapa yang pernah ngetawain aku pas kubilang mau ikut ajang pencarian bakat itu? Kamu sama cewekmu itu yang hits, Bob. Kata kalian, penampilanku ga pantes buat ikut ajang pencarian bakat. So, lihat sendiri kan? Aku berusaha mati-matian buat menang dan buktiin diri ke kalian berdua," aku melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal!
" I..iya, Nay, maaf. Tapi aku udah mutusin cewekku demi kamu, lho," ungkapnya membela diri.
" Itu sih bodo amat," jawabku. Lalu mataku terbelalak melihat siapa yang datang menghampiri dari arah belakang Bobby. Alan datang!
" Ada apa ini?" suara berat Alan mengagetkan Bobby. Bobby terlihat sangat kecil jika disandingkan dengan Alan yang berbadan tinggi besar.
" A -ah tidak apa apa!" kataku cepat.
Okta, Sachya dan Cahterine saling berpandangan. Mereka belum tahu siapa Alan.
" Dia mengganggumu?" tanyanya.
" Ah, ti tidak, kok. Kamu kembali saja ke mobil! Aku mau masuk," aku buruburu menarik ketiga sahabatku meninggalkan Bobby yang mematung dengan terus menatap Alan.
Komentar
Posting Komentar